Berita Bola Kopites, Loyalitas Tak Mengenal Thropy

Posted on

Beberapa terakhir ini, aku banyak melihat postingan di facebook yang menjelaskan perihal berapa banyak thropy yang dimenangkan tiap klub dan membandingkannya. Menjelaskan berapa banyak tim ini juara UCL, berapa banyak juara EPL dan lain-lain. Terus terang, aku pribadi tak terlalu antusias membahas hal-hal semacam itu. Membandingkan Liverpool dengan klub lain serta mempertegas beberapa gelar yang jumlahnya melebihi tim lain. Menurut saya, hal ini justru terlihat menyerupai orang yang kehabisan materi untuk mengambarkan bila tim kesayangannya ialah tim besar. Bukan aku tak menghargai sejarah, tapi biarlah sejarah tetap jadi sejarah, tanpa mempertegas pun, semua orang sudah tau akan hal itung-itungan thropy menyerupai itu. Saya sendiri menyayangi Liverpool tak peduli seberapa banyak thropy yang ada di lemari Liverpool, aku menyayangi Liverpool sebab memang aku menyayangi klub ini. Toh dari awal aku mengenal Liverpool, sekitar awal 90’an, belum pernah sekalipun aku menyaksikan Liverpool menjuarai Premier League. Tapi itu bukan alasan aku untuk tak menentukan Liverpool sebagai klub yang aku dukung, terkadang untuk mendukung suatu hal, kita tak butuh thropy atau gelar yang semacamnya.

Saya hampir lupa tepatnya, yang niscaya dikala itu gawang Liverpool dijaga oleh seorang yang eksentrik dengan jersey berjulukan Grobelaar. Entah apa yang mendorong aku untuk menyukai kiper setengah botak ini, dikala kawan-kawan aku lebih menentukan siapa yang mencetak gol, justru aku malah menentukan siapa yang menggagalkan sebuah gol. Sayang nya, aku tak banyak menyaksikan agresi Grobelaar dibawah mistar gawang Liverpool, sebab keburu digantikan oleh David james. Dan dikala itu pula aku mengenal Liverpool. Saya sendiri tak pernah tau menyerupai apa Liverpool, dan bagaimana reputasi Liverpool, tetapi aku sudah terlanjur menentukan Liverpool sebagai favorit, tentu sebab Bruce Grobelaar awalnya. Tapi tak salah aku mengakibatkan Liverpool sebagai klub idola saya, sebab setelah bertanya dengan seorang tetangga yang senior, beliau bercerita bila Liverpool merupakan klub yang cukup sukses di Inggris dan Eropa. Namun diawal pertengahan tahun 90’an, tak banyak pertandingan-pertandingan Liverpool yang aku tonton. Saat itu aku masih duduk di Sekolah Dasar, dan lebih sering bermain diluar rumah bersama teman-teman dari pada menyaksikan bola. Satu pertandingan full yang aku tonton dan aku ingat hingga kini ialah ketika Liverpool berhadapan dengan Newcastle. Saat itu lini depan Liverpool diisi oleh duet kesukaan saya, Robbie Fowler dan Stan Collymore. Hal yang paling aku ingat dalam pertandingan itu ialah ketika Collymore mencetak gol dari sisi kiri gawang Newcastle untuk membawa Liverpool memenangkan pertandingan. Menurut aku itu ialah salah satu pertandingan favorit aku bersama final Istanbul dan final FA melawan West Ham United. Pemain-pemain menyerupai Jason McAteer, McMannaman, dan David James ialah yang paling aku sukai setelah kedua yang aku sebutkan diatas.
Pada pertengahan awal 90’an, sepak bola bergeser ke Liga Italia. Seperti kebanyakan orang, aku yang kala itu masih “hijau” pun bergeser mulai menyaksikan Liga Italia yang memang lebih banyak ditayangkan di TV lokal, itupun tak banyak yang aku saksikan. Pada periode sekitar 97, nama Michael Owen mulai dikenal, dan aku mulai kembali mencicipi antusias dengan Liga Inggris, dan tentunya Liverpool. Sampai pada puncaknya, ketika aku harus bergadang untuk menyaksikan Michael Owen dan kawan-kawan menjuarai Piala UEFA, setelah menang laga penalti dengan Alaves. Setelahnya, aku mulai agak sering menyaksikan Liverpool bertanding, ya meski aku tak banyak menyaksikan Liverpool bertanding, namun yang menarik, setiap ada kesempatan untuk menentukan klub favorit, aku selalu menyebut Liverpool sebagai klub idola saya. Dari seorang Bruce Grobelaar, kini aku mencitai Liverpool, bukan sebab thropy, dan bukan sebab gelar juara yang melimpah. Fakta yang harus aku terima, hingga detik aku menulis goresan pena ini, aku belum pernah melihat Liverpool mengangkat Thropy Liga Inggris, namun itu bukan berarti aku harus meninggalkan Liverpool dan mencari alasan untuk berpaling dari klub yang aku sukai dari kecil. Sama menyerupai kalian, aku pun banyak mendapatkan usikan dari fans yang menjadi rival, tapi aku mencoba untuk tidak menghitung-hitung jumlah thropy yang sejatinya tak pernah aku melihatnya secara eksklusif diangkat oleh pemain Liverpool.
Bila aku boleh bertanya pada kalian, berapa banyak kalian menyaksikan Liverpool mengangkat UCL? Bila pertanyaan itu aku jawab, maka jawabannya adalah, SATU!! Ya, final Istanbul ialah pertama kali aku menyaksikan Liverpool mengangkat thropy UCL semenjak aku memutuskan untuk menjadi fans Liverpool. How about you?? Lalu, kapan kita melihat Liverpool menjuarai Premier League? Dan lagi-lagi, bila aku yang menjawab, jawabannya adalah, BELUM PERNAH!! Ya, terakhir Liverpool menjuarai EPL, ialah ketika trend 1989/1990. Dan ditahun itu, usia aku gres 5 tahun dan masih baru-barunya mengenal yang namanya bola ditendang. Terkadang sebagian dari kita, melupakan fakta ini dan lebih menentukan menghitung jumlah thropy yang ada. Dengan mendukung Liverpool saja itu sebuah kebanggaan, Liverpool ialah klub besar, bermain diantara klub-klub di liga terbaik didunia. Biarkan saja mereka memamerkan thropy mereka, toh memang faktanya menyerupai itu, mungkin ada hal besar yang harus diingat oleh rival-rival kita, kita punya LOYALITAS!
Cukup sudah kita berhitung soal thropy, dan cukup sudah kita menjabarkan sejarah yang ada, ingat, apa yang diinginkan Steven Gerrard ialah gelar EPL. Kini saatnya kita banggakan loyalitas kita dalam mendukung klub kesayangan kita, kita percayakan sepenuhnya segala sesuatunya kepada staff dan pemain di lapangan. Percayalah, Liverpool akan mengangkat thropy Liga Inggris dan menambah jumlah serta melewati rival-rival kita. Agar tak hanya UCL yang kita banggakan, tapi juga menjadi yang terbaik di Inggris. Keep support and you’ll never walk alone…