Berita Bola King Baudouin, Mengapa Kami Yang Disalahkan

Posted on


29 Mei 1985, Heysel Stadium, Brussel, Belgia. Semua orang dan surat kabar setuju untuk menjatuhi kami hukuman. Mengkambing hitamkan kami atas kejadian yang sangat memalukan dalam ranah sepak bola Eropa bahkan dunia. Media seakan membentuk suatu citra negatif atas kami dan sampai kini, bencana itu selalu kami yang berada di pihak yang salah. Kami terang tak mengharapkan apa yang terjadi di Brussel, namun kami ingin semua nampak terang dan kami tak ingin menyimpan sebuah penyesalan lantaran kesalahan yang bekerjsama bukan cuma dari pihak kami. Kami coba bertanya, kami saling mengolok-olok, tapi kenapa kami yang disalahkan? Kami saling menyerang, tapi kenapa seolah itu hanya menjadi dosa kami? Dan tembok itu runtuh sehingga menghantam orang-orang itu, tapi mengapa hanya kami yang disalahkan?


Beberapa jam sebelum pertandingan, kami berkumpul bersama sambil bernyanyi dan menenggak bir. Hal ini menjadi hal yang masuk akal bagi kami disaat-saat akan menantikan sebuah pertandingan. Sampai kami sadar bahwa pembagian alokasi tiket sangat tidak menguntungkan bagi kami, pihak panitia memperlihatkan slot tribun netral diantara kami. Ya ini tidak menguntungkan, lantaran belgia merupakan basis terbesar italia pada ketika itu, dan dengan adanya slot netral itu, sama saja memperlihatkan jatah tiket pada orang-orang italia itu. Kami masih ingat bagaimana tahun sebelumnya, kami terusik dengan ulah fans AS Roma ketika kami bertandang ke Roma. Kami tak ingin hal itu terulang kembali, namun dengan adanya slot kosong yang kemungkinan besar akan ditempati oleh fans Juve, maka kami harus yakin bahwa kami minoritas dalam hal jumlah penonton.

Beberapa jam sebelum pertandingan dimulai, kami semua berebut untuk sanggup memasuki Stadion. Dan asumsi itu benar, sekitar satu jam sebelum pertandingan, kami terlibat ejekan yang diteruskan saling melempar benda-benda kearah tribun lawan. Kami masih ingat setahun sebelumnya, fans AS Roma telah menciptakan kami terlibat keributan, dan kami sadar, kalian orang-orang yang berasal dari negara yang sama. Jelas kami tak ingin terdesak, kami yang kala itu sanggup dikatakan sebagai minoritas di dalam stadion mencoba untuk merangsek kearah pendukung Juve. Kami tak tahu siapa yang memulai, tapi dari laporan yang ada, fans Juve yang mulai melempari kami dengan benda-benda keras. Itulah satu-satunya yang menjadi pembelaan kami, namun tampaknya hal itu tak bernilai dan tak meringankan sanksi yang telah kami jalani. Setelah itu, semuanya menjadi makin runyam, pembatas kawat dengan regu pengamanan yang minim terang bukan hal yang sulit untuk ditembus, mereka terdesak dan terus berlari kesudut. Tiba-tiba dinding stadion runtuh dan menjatuhi penonton ditribun disebelahnya. Hal ini jelas, selesai hidup itu bukan murni atas kebringasan kami, tapi stadion yang memang tak layak untuk menggelar program akbar final Liga Champion ini.

Paska pertandingan, kepolisian mengadakan investigasi, dan mereka menetapkan bahwa kami yaitu biang keladi dari tewasnya 39 orang terkena runtuhan dinding stadion. Ini lelucon, kami berselisih, kami saling mengolok, tapi faktanya kami tak membunuh mereka. Seorang yang besar lengan berkuasa telah mengatakan. bahwa stadion itu tidak layak untuk menggelar langgar besar partai final, namun pihak UEFA tak menggubrisnya, bahkan membantahnya. Alokasi tiket yang tak seimbang, area netral yang membingungkan, pembatas dari kawat dan penjagaan yang tak maksimal justru luput dari pemeriksaan tolol ini. Dan pada karenanya kami juga yang disalahkan. Kita sanggup membayangkan, kita berada pada jumlah minor dengan dibayangi lemparan watu ditahun sebelumnya, dan sekarang kami bertemu lagi dengan orang-orang dari negara yang sama. Ini antisipasi, ya antisipasi kami lantaran ditahun sebelumnya, kami pernah mencicipi bagaimana kami dilempari oleh jumlah lebih banyak didominasi di Roma.

Kami tak lagi menikmati pertandingan, yang kami lihat hanyalah sebuah setting dari sebuah permainan yang terang tak layak disebut final. Penalti yang kontroversial, telah merusak segala hal yang mereka sebut partai final. Sebagian dari kami sudah tak peduli dengan final yang memuakan itu, berdasarkan kami, itu yaitu final dengan kapasitas kepemimpinan terburuk yang pernah ada. Dan setelahnya merupakan periode jelek bagi semuanya, sanksi dijatuhkan dan itu sangat merugikan kami. Pelarangan bertanding dalam kancah Eropa, serta menuding kami dengan brutal bahwa kami yang bertanggung jawab atas bencana ini. Kami membela diri, dan kami tak ingin jadi pihak yang paling disalahkan, pada faktanya kami terlibat dalam dua komunitas. Kami cukup berani untuk sekedar meminta maaf atas apa yang terjadi, kami turut berduka terhadap para korban dan para kerabat dan keluarga, tapi kalian juga harus tahu, ketika dua komunitas saling berbenturan, maka tak adil kalau hanya menyalahkan salah satunya.

Kini, King Baudouin telah bangun seakan ingin menutup kebenaran yang seharusnya kami teriakkan. Heysel hanya kenangan yang menuding kami sebagai cecunguk tanpa memberi kesempatan untuk menandakan hal-hal yang meringankan wacana apa yang telah terjadi. King Baudouin seakan mempertegas bahwa Heysel telah pergi dengan hanya menyisakan kenangan, bahwa kami yaitu sekumpulan orang yang beringas. Berikut hal-hal konyol yang justru atau seolah disimpan semoga kami infinit menjadi dalang utama bencana Heysel.

– Alokasi pembagian tiket yang tak seimbang, area netral justru menyudutkan kami, lantaran pada ketika itu, Belgia menjadi basis besar Italia. Dan area netral yang seharusnya untuk warga sekitar, justru diambil oleh fans Juve.

– Stadion yang tak layak, runtuhnya dinding pembatas stadion yaitu fakta bahwa Heysel ketika itu bukan stadion yang layak untuk menghelat gelaran akbar semacam final Liga Champion. Hal ini merupakan hal paling fatal dalam bencana ini, dimana korban tewas kebanyakan disebabkan oleh runtuhnya dinding stadion.

– Pengamanan yang minim, kedua kubu hanya dibatasi oleh kawat yang sangat ringkih dan dijaga oleh pengaman yang tak sebanding. Kami masih mengingat bagaimana kami diserang di Roma, dan alasan itu cukup buat kami untuk mempertahankan jumlah kami yang ketika itu lebih sedikit.

– Bentrokan ini bukan milik kami sendiri, dari sebelum pertandingan dimulai, kami saling mengolok, dan puncaknya yaitu ketika fans Juve melempari benda-benda kearah kami. Kami bereaksi, dan itu terang beralasan. Lantas mengapa kami sendiri yang dieksekusi dan dianggap menjadi biang keladi dari semua ini?

Kenny Dalglish (LFC player 1977-90): I can’t condone the action of some Liverpool fans but it is difficult not to react when the opposing supporters are throwing missiles at you. The fact that fatalities might result wouldn’t have occurred to the Liverpool fans when they ran across. If you have been pelted by stones the year before, and suffered badly, you are not going to accept it again. That’s how the trouble started.