Berita Bola Hey Bill, Terima Kasih

Posted on


Desember 1959, seorang laki-laki yang tampaknya ambisius tiba ke kota Liverpool. Dan tampaknya ia sadar, ia berada di sebuah daerah kelas dua di kota yang kini dipijak sempurna diatas kakinya. Dia juga sangat sadar, di kota ini tak ada teman atas antusias yang ia bawa. Tak ada yang peduli dengan kedatangannya, atau mungkin memang tak penting untuk dipedulikan. Tapi, ia tak bergeming, dan tetap melanjutkan rasa antusias nya dan membawanya memasuki kota yang kelak ia yakin menjadi sebuah kota yang besar dalam jagat sepak bola dunia. Pria ini tak hanya membawa sekeranjang keyakinan, namun ia juga menyiapkan sekarung pedoman yang akan membawa perubahan dalam memandang sebuah pertandingan. Pria ini yang memaksa pujian dalam hati tiap prajurit dengan logo burung liver di dadanya. Namun itu semua tak cukup, seakan seisi kota lebih pesimistis dari yang “mungkin” ia bayangkan. sekali lagi, ia tak bergeming, dan berjalan sesuai keyakinannya untuk sebuah pujian atas ribuan warga kota dan fans hingga kini.

Bill, ya laki-laki itu berjulukan Bill, laki-laki sosialis yang tak pernah lepas sedikitpun dari permasalahan sepak bola. Bill diangkat menjadi manager Liverpool FC yang kala itu bermain di divisi II Liga Inggris. Mungkin ketika itu banyak yang mewaspadai wacana kualitas Bill, maklum sebelumnya Bill juga bukan seorang instruktur klub besar, Bill direkrut dari klub Huddersfield yang kala itu berada satu divisi diatas Liverpool FC. Awal yang mencengangkan, Bill merevisi pasukannya, dan hasilnya, kurang lebih 24 pemain dipecat dan Bill mendatangkan beberapa pemain yang menurutnya lebih berkualitas. Hal ini terperinci merupakan tindakan gila, 24 orang bukanlah sedikit, orang sebanyak itu sanggup untuk menciptakan 2 tim sepak bola, dan lagi-lagi ia terlalu keras untuk dicegah. Dia menggantinya dengan pemain yang berkualitas, dan hampir setiap musimnya Bill selalu bertengkar dengan staff direksi klub demi menuntut perbaikan di tiap sudut klub ini. Bukan hanya pasukannya, semua hal tak luput dari pantauan Bill, mulai dari daerah latihan, porsi makan, aktivitas diet dan bagaimana melaksanakan istirahat yang benar. Ketika semua itu telah berjalan sesuai keinginannya, ketika itulah sebuah pondasi kokoh telah ia bangkit untuk sebuah klub yang menjadi pujian Merseyside ketika ini.

Bill, memimpin Liverpool kembali ke kasta tertinggi persepakbolaan Inggris, pass and move yang menjadi senjata ampuh milik Bill mulai menebar bahaya buat klub-klub lain. Belum puas, Bill tetap saja berdebat setiap musimnya untuk meminta perbaikan dalam badan tim, ia mencari sendiri bakat-bakat muda pesepak bola. menanamkan pujian pada setiap pasukannya, terperinci Bill sadar akan makna sebuah kebanggaan. Bila seorang berjalan dengan sebuah kebanggaan, maka tak akan ada hal yang sanggup menghalangi langkah orang tersebut. Dan ia juga meyakinkan kepada seisi warga kota wacana pujian dan pentingnya menjadi yang terbaik. Dalam suatu ketika, Bill pernah berujar “Jika saya jadi tukang sampah, maka saya akan jadi tukang sampah terbaik di Liverpool. Saya akan buat Liverpool jadi kota terbersih di dunia. Saya akan mengajak semua tukang sampah bekerja sebaik mungkin, dan saya akan pastikan mereka dibayar dengan pantas. Tapi mungkin ada orang yang bertanya, buat apa menghargai tukang sampah atas pekerjaan yang semua orang sanggup lakukan? Tapi saya akan bertanya balik, mengapa mereka menganggap diri mereka lebih penting dari tukang sampah? Saya akan bertanya seberapa gembira mereka bila kota mereka jadi kota terbersih di dunia? Dan siapa yang akan menciptakan mereka bangga? Tukang sampah,” ujar Bill dalam satu wawancara.

Liverpool FC berkembang menjadi klub yang penuh harapan, dan kini suppoter mulai yakin dengan apa yang telah dilakukan Bill, puncaknya ketika Liverpool berhasil promosi ke divisi 1 pada 1961/1962 dan merebut juara liga pada animo 1963/1964. Tak hingga disitu, Bill juga mengantarkan Liverpool berlaga di kompetisi Eropa dan menjadi salah satu klub yang paling disegani di daratan Eropa dan mulai populer di dunia. Hingar bingar Liverpool FC dikancah sepak bola telah merubah kota yang dulu tak memiliki antusias menjadi kota dengan salah satu klub sepak bola terbaiknya. Setelah 15 tahun Bill membangun Liverpool dengan penuh kejujuran dan kebanggaan, karenanya Liverpool FC dan Bill berpisah, sehabis mempersembahkan gelar piala FA ditahun 1974, Bill benar-benar pensiun dan menunjuk Bob sebagai penggantinya. Namun Bill tak sepenuhnya hilang dari Liverpool, Bill masih sering terlihat ketika tim sedang berlatih, lengkap dengan pakaian seorang pelatih. Hal ini terperinci tak mengenakan Bob yang telah resmi menggantikannya, ini terperinci mengganggu kinerja Bob yang memang kini lebih berhak untuk mengatur klub. Hingga karenanya Bill tak boleh lagi mengunjungi Melwood, sebuah daerah yang dulu ia bangkit dengan tangannya sendiri.

Meski begitu, Bill masih sering menyaksikan Liverpool FC bertanding, awalnya Bill masih sering terlihat duduk ditribun direksi, namun lama-kelamaan Bill harus menepi dan menyaksikan Liverpool dari tribun The Kop. Tak ada lagi keributan di tiap musimnya dengan para direksi klub, dan yang sangat disesalkan yaitu tak adanya ajuan untuk Bill untuk sekedar menduduki jabatan sebagai direksi. Untuk sekedar mendapat tiket pertandingan pun, Bill pernah menulis dalam buku biografinya, “Tentu saya akan bahagia bila diundang untuk menyaksikan tubruk tandang ke klub lain, namun saya menunggu, dan menunggu, dan menunggu hingga saya lelah menunggunya”. Hal yang tak baik tentunya mengingat betapa besar Bill telah membangun suatu pondasi yang kokoh dalam badan Liverpool FC.

7 tahun sehabis Bill pensiun, kejadian besar dalam perjalanan Liverpool FC terjadi. Bill seorang yang antusias, jujur dan memiliki pujian yang tinggi terhadap Liverpool telah meninggal dunia. Di usi 68 tahun, seorang laki-laki yang dahulu tak pernah digubris,  hingga karenanya ia menciptakan perubahan besar pada Liverpool FC, dan tentu juga perubahan pada kota Liverpool secara umum, kini telah tiada. 11 bulan sehabis kepergian Bill, sebuah gerbang disalah satu sisi stadion Anfield didedikasikan untuk mengenang betapa berjasanya seorang Bill. Dan untuk melengkapi pujian nya, dibangunlah sebuah patung Bill di sebuah sisi Anfield Stadium dengan gestur terkenalnya yang membentangkan kedua tangannya.

Dalam hal sepak bola, tak ada yang mengalahkan Bill, dimanapun Bill berada, maka garis wajahnya seakan mengisyaratkan wacana si kulit bundar. Begitulah kisah wacana Bill, kisah seorang laki-laki dengan tekat dan pujian terhadap klub yang ia cintai LIVERPOOL FC. Seorang manager klub yang menjadi idola para fans, bahkan mungkin pada periode Bill, tak ada instruktur yang dicintai supoorter nya layaknya Bill. Houlding mungkin yang pertama kali membangun Liverpool FC, tapi Bill yang menyempurnakan apa yang dibangun Houlding, bila tak ingin disebut, pembangun gres Liverpool FC. Hey Bill, kami merindukan mu, terima kasih Bill untuk segala pujian yang telah kau tanamkan kepada kami, kepada para kopites. Mungkin kami tak pernah mengenal mu secara langsung, bahkan kami tak hidup dimasa ketika kau membangun klub ini, tapi kami terperinci menghargaimu Bill.

Hey Bill… Terima Kasih… You’ll Never Walk Alone





Sumber cerita: Berbagai sumber