Berita Bola Bruce Grobbelaar, Akibat 1984 Dan Efeknya Di Akibat 2005

Posted on


Bruce Grobbelaar, penjaga gawang eksentrik ini memperkuat Liverpool FC dari tahun 1981-1994. 13 tahun berkarir di Anfield, Bruce mempersembahkan 6 gelar Liga Inggris, 3 Piala FA, 3 Piala Liga dan 1 trofi Liga Champion. Bruce tiba ke Anfield sebagai pengganti Clemence, hal ini merupakan sebuah beban tersendiri buat Bruce karena Clemence merupakan kiper terbaik Liverpool ketika itu. Debut Bruce Grobbelaar sendiri tak berakhir bagus, Bruce harus mencatat kekalahan di partai debutnya kala Liverpool harus mengalah 1-0 dari Wolverhampton. Bukan hanya itu, di awal karir bersama Liverpool, Bruce banyak melaksanakan kesalahan, pernah Paisley hingga memanggil Bruce secara langsung dan memarahinya. Ketika itu ketika Liverpool harus mengalah dari Manchester City 3-1 di laga boxing day 1981. Sepertinya Paisley berhasil menyadarkan Bruce, setelahnya penampilan Bruce membaik dan terus membaik hingga posisinya tak tergantikan.

Bruce bukan hanya piawai membendung bola-bola yang tiba ke arah gawangnya, Bruce juga populer sangat vocal ketika berada dilapangan. Sering Bruce berteriak memarahi kawannya untuk lebih siap dalam menjaga tempat pertahanannya. Bruce sempat bersitegang dengan Jim Beglin ketika final Piala FA 1986 vs Everton. Dan mungkin yang paling populer yaitu ketika Bruce bersitegang dengan Steve McMannaman. Namun mental juara dan kegilaan Bruce yang paling kita ingat dari segala hal yang ada pada Bruce Grobbelaar. Kegilaan Bruce yang paling populer yaitu ketika memprovokasi pemain AS Roma ketika final Liga Champion 1984, gerakan kaki yang seakan gemetar menjadi sebuah mark dari Bruce.

Spaghetti leg, begitu orang-orang menyebut gerakan unik kala Bruce mencoba memprovokasi penendang AS Roma kala itu. Sejatinya tak ada satupun tendangan pinalti pemain Roma yang sanggup di blok oleh Bruce, meski faktanya bola itu melambung diatas mistar. Lalu apa yang menciptakan Spaghetti leg ini begitu terkenal? Jawabanya ada pada Jerzy Dudek ketika Liverpool harus tabrak pinalti di final Piala Champion 2005 di Istanbul. Ya, kala itu lawan yang harus dihadapi yaitu AC Milan, klub dari negara yang sama dengan AS Roma. Dudek mengikuti gaya Bruce dengan kaki gemetarnya, dan hasilnya… Dudek bisa menepis tendangan Shevchenko dan memastikan gelar Champion ke-5 bagi Liverpool. Meskipun Bruce tak pernah menepis pinalti pemain Roma, namun Bruce telah menginspirasi seorang Dudek untuk melaksanakan hal serupa dan sanggup melakukannya dengan lebih baik.

Kita tak perlu mencari-cari terlalu banyak pertandingan untuk membuktikan betapa Bruce begitu hebat. Kita cukup menyaksikan bagaimana Bruce mengawal gawang Liverpool di final Champions 1984, dan final Piala FA 1986 versus Everton. Final Champions mungkin yang terberat, 1984 final Champion di gelar di Olympico yang merupakan sangkar dari AS Roma. Saat hasil final 1-1 dan harus dilanjutkan dengan tendangan pinalti, tampaknya sulit untuk Liverpool untuk memenangi pertandingan, secara Olympico yaitu sangkar mereka dan mental pemain Roma terperinci lebih mendukung. Namun bila kita saksikan betapa santai dan relax nya Bruce ketika menghadapi tendangan pinalti pemain Roma terperinci itu membuktikan jikalau Bruce tak terpengaruh dengan tekanan fans tuan rumah. Sebelum tendangan terakhir pemain Roma, Bruce berjalan santai ke arah gawang dan memberi senyuman ke arah kamera, lalu… Spaghetti legs yang populer itu justru berhasil menciptakan lawan tak bisa mengeksekusi tendanganh dengan baik. Di partai final Piala FA sekali lagi Bruce membuktikan semangat dan mentalnya. Liverpool tertinggal lebih dulu sebelum kesudahannya sanggup membalikan keadaan menjadi 3-1 dan menjuarainya.

Kembali ke imbas 2005, gerakan Bruce punya andil besar terhadap mental seorang Dudek dan beberapa pemain Milan terutama Shevchenko sebagai penendang terakhir. Gerakan yang dibentuk Dudek lebih liar dari yang diperbuat oleh Bruce di final 1984, namun dalam hal memprovokasi gerakan itu sama berhasilnya. Kaprikornus mungkin tak berlebihan bila gelar ke-5 Liverpool di Liga Champion 2005 terselip jasa Bruce Grobbelaar yang menginspirasi Dudek dengan “goyangan kaki” nya. Berikut beberapa data dan fakta ihwal Bruce Grobbelaar si penjaga gawang eksentrik milik Liverpool FC.

Bruce Grobbelaar lahir di Durban, Afrika Selatan, namun Bruce lebih menentukan Zimbabwe sebagai kewarganegaraannya.
Bruce Grobbelaar telah mencatatkan caps sebanyak 628 bersama Liverpool dengan 6 gelar Liga Inggris, 3 Piala Liga, 3 Piala FA dan 1 gelar Liga Champion.
Tahun 1994 Bruce pernah di tuduh The Sun (don’t buy the sun) dalam pengaturan skor, namun Bruce bersikeras tak bersalah. Setelah 2 tahun mengumpulkan bukti, kesudahannya Bruce membuktikan jikalau dirinya tak bersalah dan menuntut balik The Sun atas pencemaran nama baik.
Bruce sebetulnya akan menandatangani kontrak dengan West Bromwich Albion di tahun 1978, namun gagal alasannya yaitu tak mendapat izin kerja ketika itu.




Sumber: indonesia.liverpoolfc.com, chirpstory.com, wikipedia, dan aneka macam sumber